jQuery Mobile Framework

Navigation Search

Aktualita - Ustadz Badrusalam

Penghambat-penghambat Menuntut Ilmu

Sabtu, 12 Mey 2012 , 07:19:43
Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc



1. Niat yang rusak.
Seperti keinginan mencari ilmu karena dunia, atau mencari popularitas dan kemasyhuran, sehingga menjadikan seorang penuntut ilmu matang sebelum waktunya, akibatnya bertebaran da'i da'i karbitan.

2. Menyia-nyiakan majlis ilmu.
Padahal majlis ilmu adalah majlis yang turun padanya sakinah, rahmat Allah meliputinya, para malaikat mengelilinginya, dan Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikatNya.

3. Beralasan dengan kesibukan.
Ini adalah alasan yang dijadikan oleh setan untuk menghambat banyak manusia dari ilmu, dimana kesibukan bekerja menutup jalan menuju ilmu. Padahal bila ia bersungguh-sungguh, tentu ia akan mampu menyediakan waktu itu menuntut ilmu.

4. Terlalu mengikuti perkembangan zaman.
Ini sering menimpa banyak aktivis islam dengan istilah fiqih waqi'. Padahal untuk menjawab problematika umat membutuhkan kekokohan ilmu dan pemahaman yang dalam.

5. Merekomendasi diri sendiri.
Ia merasa telah memiliki banyak ilmu, karena sudah punya blog di internet, atau media dakwah lainnya. Lalu manusia memandang dia sebagai 'alim, sehingga ia merasa puas dengan sesuatu yang ia tidak miliki.

6. Tidak mengamalkan ilmu.
Ini berakibat hilangnya keberkahan ilmu: "Sangat besar kemurkaan Allah kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak lakukan". (Ash Shaff: 3).

7. Merasa minder.
Dia pun malu untuk menghadiri majlis ilmu, padahal para ulama dahulunya bodoh lalu menuntut ilmu sehingga merekapun menjadi ulama.

8. Beralasan dengan "nanti".
Bila ada kesempatan, ia berkata, "Nanti.. Padahal ia tidak tahu kapan ajal menjelang.. Para salaf terdahulu berkata, "Nanti adalah balatentara setan."

9. Menyia-nyiakan waktu.
Dengan mengisi waktunya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, padahal tanda kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.

(Dari kitab Ma'alim fii thariiq thalabil 'ilmi karya Syaikh Abdul 'Aziz As Sadhan).

Sudah dibaca oleh 607 orang

Share:

Follow Us:

comments powered by Disqus